Random Tumblr Themes

bonjour......


"Kamu letih berlari lalu berhenti pada papan sandaran hati. Berkali-kali hingga tak terhitung jemari. Terimakasih."

Fathia Mardliah


"Aku sedang memikirkanmu yang sedang memikirkan dia.. Begitulah"

Fathia Mardliah


"Sensasi semu dari tatapan yang mengawasi. Aku tahu ini menyenangkan hanya karena tatapannya berasal dari dia."

Fathia Mardliah


I am lost in dreams and reality | Graphics99.com on We Heart It. http://weheartit.com/entry/28327153

I am lost in dreams and reality | Graphics99.com on We Heart It. http://weheartit.com/entry/28327153

Manusia diberi sebuah kanvas untuk diwarnainya dengan krayon.

Berwarna-warni, berpola abstrak

Saling menggurati hingga berwarna

Ada sebuah kanvas kosong melongpong

Sementara krayonnya berkali-kali habis tak tersisa

Digunakannya untuk menggurati kanvas lain

Begitu terus hingga tak terhitung jemari

Kanvasnya masih sama, kosong

walau ada guratan warna tak kentara yang ditimpa hitam dan putih

pemiliknya berkata ”Jika anda berkata ’Hidup saya terasa berwarna ketika anda ada’ itu memang benar, saya memiliki sejuta krayon untuk menggurati kanvas lain. Tetapi saya mempunyai kanvas yang juga perlu untuk digurati, diwarnai. Bukan hanya hitam dan putih berpola monoton. Tetapi berwarna-warni dan berpola abstrak. Saya hanya menunggu seseorang yang datang dengan sebuah kanvas warna-warni berpola abstraknya, bercerita tentang warna-warna yang tak hanya hitam dan putih. Lalu menggurati kanvas saya yang berwarna jenuh berpola penat. Akan kuhabiskan krayonku untuknya.”

harapnya hanya menguat hingga pekat

kanvasnya hanya lusuh diamini debu

”Kukira belum saatnya”

08.04 p.m

Fathia Mardliah

18 April 2012 – ’Once again, fuck yeah! 17 April 2012’



Himpunan ingatan yang telah bertahun menggenang memaksaku berteduh pada setiap ruas harap pekat, menyongsong fajar yang sendu dan bertahan kala malam dingin menyentuh batin. Jutaan kemonotonan ini mencambukku pada setiap lengkung senyum ketika pesanmu tiba… dulu. ”Sudah makan?”. Lalu Membekas pada hati sewarna rona pipiku ketika waktu mempertemukan kita.

”Burger ayam, kentang goreng, dan teh manis dingin”

”Aku juga sama”

Senampan makanan berada di tengah-tengah kita, bergeming menikmati senyap. Lalu kita berbicara tentang kamu dan aku. Hanya itu. Pertemuan singkat yang tak sengaja mengukir setiap momennya dalam memori hingga terkunci rapat ”Thanks for today, I’ll remember”. Kini aku berlari mencari kunci untuk kubuka memoriku dan memburaikan semua. Tersadar semuanya berlalu terlalu cepat

17 April 2012, kau pergi setelah kemarin berucap ’SAYA TIDAK MAIN-MAIN’ lalu tersadar kau hanya membual. Oh maaf, aku tak tahu jika kau memang pergi, itu hanya asumsiku yang benar adanya. Pergi tanpa pamit. 1 kali lagi, Ya Tuhan! _ pesanku, jika singgah pada hati, berpamitlah jika ingin pergi, ucapkan selamat tinggal dengan hati-hati. Terimakasih banyak telah memperhatikanku 3 bulan terakhir ini.



Seperti euforia harian yang tak pernah nyata, kehadiranmu menjadi suatu hal yang tidak biasa

Aku membersihkan jubah yang melingkupi luka agar dapat terlihat sempurna

Sebentar lagi waktu akan mempertemukan kita, lagi, lagi, lagi, dalam sebuah repetasi monolog karena hanya aku yang merasa

Tidakkah kamu lihat aku bersembunyi disekeliling hanya untuk melihat siluet gerakmu?

Lalu yang terlihat selanjutnya hanya punggungmu yang bergerak menjauh,

menunduk dan pergi yang ku lakukan selanjutnya agar kamu tidak tahu seberapa banyak aku mencoba

Berjalan pergi agar kau tak tahu seberapa banyak aku mencoba

Dan seperti irama dalam pikiran, memejamkan mata adalah cara terbaik memanggil kamu. Ini sering sekali kulakukan agar sepi bisa terobati.

Akhirnya kita pergi ke sebuah tempat, dimana khayal dan nyata tak bisa dibedakan. Yang kulihat hanya kamu dan aku pergi bersama, tawa terselip disitu. Tetapi hening yang kudengar.

Di sampingku adalah kamu… sebuah fantasi monolog karena hanya aku yang merasa. Lagi, lagi, lagi, lagi dalam himpunan repetasi

”Aku hanya ingin kita berada dalam dimensi ruang dan waktu yang sama”bisikku. Lantas pergi dari mimpi untuk kukejar waktu sambil memejamkan mata.  



Kuharap aku bisa menyimpan suaramu dalam ruang dengarku. Ruang itu akan terbuka lebar dalam sebuah pori dinding untuk merekam dan menyimpan gemanya pada tabung memori. Sungguh jika aku bisa, akan kuputar berulang kali sebagai tembang nina boboku kala gelap menyelimuti. Kuharap aku bisa menyimpan aroma lehermu yang membuka rongga untuk kunikmati dalam gelap suatu saat. Mungkin akan terasa seperti menikmati embun sejuk di tengah kemarau berkepanjangan. Kuharap aku bisa menyimpan ceritamu untuk ku abadikan dalam sebuah catatan, untuk ku baca kala sepi menghinggapi, seperti hadirmu yang selalu saja menyapu dinginnya batin. Kuharap aku bisa benar-benar menatap kamu, karena selama ini kita hanya melihat dan tak benar-benar menatap. Sekeliling pun hanya seperti saksi yang mengawasi, bergeming menatap kita sedang melihat. ”Aku hanya ingin kita berada dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, lantas bercakap untuk waktu yang lama” Aku heran mengapa aku terus berharap, menggedor, dan meneriakkan satu nama. Karena, Demi Tuhan! Harap itu hanya pekat dan telah bertahun menggenang. Hingga menisankannya dan pergi yang kulakukan. Lalu setelah itu, ketika kita saling melihat.. Gelegar asa seperti mencambuk tiba-tiba. Menggali apa yang telah terkubur dan menumbuhkannya menjadi belukar mimpi bertabur senyum yang tumbuh di kepala. Ketika sapuan dua pasang mata bertemu, terasa seperti tercebur dalam lautan asa. Cipratannya akan mengenai belukar mimpi dan akan terus tumbuh di kepala. Aku tidak peduli, tolong teruskan! Agar kita tak hanya melihat, tapi benar-benar saling menatap. Belukar mimpi akan terus subur menggerayangi kepala, menunggu layu tiba-tiba. Hanya perkara waktu!




"Saya hanya harus membuang harap yang terlalu lama pekat, tanpa perlu mengingat-ingat
-Juni 2009-"

_Fathia Mardliah


:* Muahahahahahaha

(Source: rkhearts, via lujanponce)



Fathia Mardliah | 16 years old | Female | Well, yeah enjoy this site !

XOXO ♥

Following:




Likes:

See more stuff I like
next »